Welcome to

Friday, 25 September 2026

Pemantik yang Besar


“Mba Put, Tema Cantante bulan September apa?” tanyaku lewat WhatsApp. 

“Besar...” balas Mba Put.

“Anyway, aku udah kirim email ya mengenai ini...” sambungnya lagi.

“Oh, oke. I’ll check,” jawabku segera.

Sambil membuka laman email, aku malah berpikir, “Hmm... besar ya? Hahaha. Apanya yang besar, ya?”

Entah kenapa, satu kata itu langsung membuat pikiranku ke mana-mana. Aku bahkan sempat ketawa-ketawa kecil sendiri di depan laptop.

Untung nggak ada yang lihat.

Kalau ada yang lihat, mungkin dikira aku sedang baca email penting, padahal sedang bengong mikirin kata Besar.

Laman Outlook sudah terbuka. Aku cek inbox, scroll ke bawah, lalu scroll lagi.

Kok nggak ada?

Email terakhir dari Tim Cantante ternyata masih tanggal 23 Agustus 2026.

“Wah, jangan-jangan dikirim ke Gmail aku, nih.”

Aku pun langsung chat Mba Put, salah satu owner Majalah Cantante.

“Mba Put, kagak ada email dari Cantante di Hotmail aku. Terakhir tanggal 23 itu aja. Mba Put kirimnya ke Gmail, yak?”

Sambil mengirim pesan, aku langsung membuka menu Internet Options di laptop.

Aduh...

Kalau sudah begini, mau buka Gmail saja harus berurusan dengan proxy.

Maklum, aku pakai laptop dan jaringan kantor. Beberapa akses internet memang dibatasi karena sistem di kantor lebih banyak menggunakan ekosistem Microsoft. Jadi kalau mau buka Gmail dan beberapa layanan lain, kadang aku harus mematikan proxy terlebih dahulu.

Ribet?

Iya.

Tapi sudah biasa.

Setelah proxy dimatikan, Gmail akhirnya bisa dibuka.

Dan...

Yup.

Benar saja.

Email dari Tim Cantante ternyata masuk ke Gmail-ku.

“Yaaa ada nih emailnya, hahaha. Gmail aku kagak bisa buka kalau di kantor. Proxynya kudu dimatiin. Di kantor pakenya Microsoft.”

Anjaaaay.

Gaya banget bahasanya.

Aku juga nggak tahu apa yang ada di pikiran Mba Put membaca chat-ku saat itu. Mungkin Dia cuma geleng-geleng kepala.

“Hahaha, iya masuk ke Gmail kayaknya. Mau aku daftarin yang Hotmail aja?”

“Iya, Hotmail aja, Mba...” balasku cepat.

“Oke.”

Selesai.

Urusan email beres.

Tapi urusan yang satu lagi belum.

Pemantik Cantante bulan ini BESAR.

Dan sejak saat itu, satu kata tersebut seperti mengikuti ke mana pun aku pergi.

Aku coba mencari inspirasi dari blog lamaku.

Blog yang sudah old banget.

Siapa tahu ada tulisan lama yang bisa disambungkan dengan tema “Besar”. Aku baca beberapa tulisan yang pernah kubuat dulu.

Satu per satu.

Ternyata...

Nggak ada yang pas.

Aku malah makin mikir.

Besar.

Bertumbuh menjadi besar.

Punya harapan yang besar.

Mimpi yang besar.

Cinta yang besar.

Masalah yang besar.

Pengeluaran yang besar.

Badan yang membesar.

Besar kepala.

Eh?

Besar kepala dari pada Tiang?

Lho?

Kok malah makin ngaco?

Nah, kan.

Akhirnya pikiranku benar-benar membesar ke mana-mana.

Sampai suatu ketika ada sesuatu yang benar-benar terasa “besar” dan ingin segera kukeluarkan.

Alias...

Kebelet.

Aku buru-buru pergi ke tempat tongkrongan sambil berharap, siapa tahu inspirasi datang di sana.

Bukannya dapat inspirasi, aku malah scroll TikTok.

Dan lagi-lagi kata “besar” muncul dalam berbagai bentuk.

Cinta yang besar.

Badan yang membesar.

Pengeluaran yang besar.

Harapan yang besar.

Aduh...

Kenapa sih harus tema Besar?

Aku jadi overthinking sendiri.

Setelah menyelesaikan hajat kebeletku.

Akhirnya aku kembali ke meja.

Aku buka laptop.

Lalu mencoba menulis apa pun yang muncul di kepala.

Tapi yang muncul tetap sama.

Besar. Besar. Besar.

Aku sampai bingung sendiri.

Kalau tema besar yang dibahas cuma tentang mimpi besar, cinta besar, atau cita-cita besar, rasanya terlalu biasa.

Aku ingin mencari sesuatu yang lebih dekat.

Sesuatu yang benar-benar aku alami.

Dan akhirnya aku menemukan satu hal

Hati yang besar.

Apakah kita punya hati yang cukup besar untuk menerima sesuatu yang sebenarnya bukan mau kita?

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi jawabannya tidak.

Dalam karier, misalnya.

Kadang kita mendapatkan pekerjaan yang tidak kita inginkan.

Kadang kita harus mengerjakan sesuatu yang bukan bidang kita.

Kadang kita harus menerima keputusan yang menurut kita kurang tepat.

Kadang kita ingin bilang,

“Kenapa harus aku?”

Tapi tetap saja kita mengerjakannya.

Mungkin karena kita masih membutuhkan pekerjaan.

Mungkin karena kita nggak enakan.

Mungkin karena ingin belajar.

Atau mungkin karena memang tidak punya pilihan lain.

Dan itulah yang sedang aku alami belakangan ini.

Aku bekerja sebagai IT di salah satu perusahaan swasta di Jakarta yang bergerak di bidang Keuangan.

Tapi menjadi IT bukan berarti aku bisa melakukan semua hal yang berhubungan dengan teknologi.

IT itu luas.

Luas banget.

Kalau semua bagian IT aku jelaskan di sini, bisa-bisa satu edisi Cantante isinya cuma tulisan aku.

Jadi biar gampang, kita ambil tiga contoh saja.

Ada IT Access, tempatku bekerja.

Ada IT Infrastructure.

Dan ada IT Security.

Kurang lebih seperti itu.

Di IT Access, pekerjaan utamaku berkaitan dengan pengelolaan akses karyawan dan privilege user terhadap aplikasi-aplikasi yang digunakan perusahaan.

Sederhananya, aku lebih banyak mengurus

“Siapa boleh masuk ke mana?”

“User ini punya akses apa?”

“Privilege-nya sudah sesuai belum?”

Dan hal-hal administratif maupun pengelolaan akses lainnya.

Tapi sekitar dua bulan terakhir, aku mendapatkan tugas tambahan yang sifatnya cukup teknikal.

Aku ditugaskan ikut melakukan proses upgrade versi firewall di beberapa cabang.

Nah...

Di sinilah ceritanya mulai “besar”.

Kalau dibaca sekilas, tugasnya kelihatan gampang.

Masuk ke ruang server.

Ruangan dingin.

Lihat perangkat.

Ganti kabel dari perangkat lama ke perangkat baru.

Selesai.

Gampang, kan?

Nggak juga.

Karena yang terlihat cuma memindahkan kabel.

Padahal di balik kabel-kabel yang bentuknya menurutku hampir sama semua itu ada sistem jaringan, firewall, konfigurasi, monitoring, dan banyak hal teknis lain yang harus dipahami.

Dan yang paling bikin deg-degan

Sistem tidak boleh down.

Karena kalau sampai jaringan di cabang tersebut bermasalah, aktivitas operasional bisa ikut terganggu.

Bayangkan saja.

Satu kabel salah.

Satu konfigurasi bermasalah.

Satu proses tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Yang tadinya cuma mau “upgrade perangkat” bisa berubah menjadi masalah besar.

Itulah kenapa pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata mempunyai tanggung jawab yang besar.

Pertama kali aku ikut ke salah satu cabang, kondisi tubuh dan pikiranku sebenarnya sedang tidak terlalu baik.

Tapi tetap aku jalani.

Aku didampingi oleh salah satu teman dari IT Infrastructure yang memang sudah lebih berpengalaman.

Dia mengajarkan alurnya.

Aku mencoba memahami.

Aku melihat bagaimana perangkat dipindahkan, bagaimana kabel-kabel disesuaikan, bagaimana jaringan dimonitor, sampai bagaimana menggunakan command prompt yang layar hitam itu untuk melihat kondisi sistem selama proses berlangsung.

Aku sebenarnya bisa memahami penjelasannya.

Aku mengerti alurnya.

Tapi ketika harus melakukan prosesnya secara langsung?

Jujur...

Ngeri-ngeri sedap.

Bukan karena aku tidak mau belajar hal baru.

Bukan juga karena aku merasa pekerjaan tersebut terlalu sulit untuk dipelajari.

Tapi aku sadar dengan kapasitas ilmu yang aku punya.

Bidang utamaku memang bukan networking atau firewall.

Aku takut kalau terjadi sesuatu, aku tidak tahu harus berbuat apa.

Dan orang yang panikan seperti aku kalau sudah melihat sesuatu tidak berjalan sesuai rencana...

Wah.

Tangan bisa langsung basah.

Jantung mulai ikut meeting.

Otak mulai buka seratus tab sekaligus.

“Ini kenapa?”

“Harus ngapain?”

“Kalau down gimana?”

“Siapa yang bisa bantu?”

“Ini kabel yang mana?”

“Eh tadi kabel yang mana?”

Begitulah kira-kira isi kepala.

Sehari setelah melakukan proses tersebut, aku malah jatuh sakit.

Sampai harus dirawat.

Hahaha.

Entah ada hubungannya atau tidak, aku juga nggak mau sok tahu.

Tapi saat itu kondisi tubuhku memang sedang drop.

Aku bahkan terkena influenza A dan harus menjalani isolasi.

Dan ketika sedang sakit itu, ternyata ada cerita lain yang sampai ke telingaku.

Aku tahu ada beberapa orang dari tim lain yang membicarakanku.

Katanya aku sakit karena diberikan pekerjaan tersebut dan ada yang bilang aku menolak untuk mengerjakan itu, padahal bicara langsung dengan atasan ku saja mengenai hal ini belum ada. Aku justru mengetahui semuanya dari obrolan orang lain, orang yang bahkan tidak memiliki keterlibatan langsung dalam hal itu, yang lebih membuatku heran, justru ada beberapa orang yang sebenarnya tidak berada dalam ranah pekerjaan tersebut ikut campur. Mereka ikut mengompori dan menambahkan bumbu ke dalam cerita tersebut.

Awalnya?

Sedih.

Marah juga.

“Orang lagi sakit kok malah dibicarain?”

Yang lebih bikin sedih, nggak ada satu pun dari mereka yang datang menjenguk.

Ucapan pun tidak ada.

Tapi ya sudahlah.

Aku masih butuh pekerjaan.

Jadi akhirnya aku belajar satu hal:

Kadang kita memang harus berbesar hati untuk tidak membalas semua hal yang menyakiti kita.

Bukan karena kita tidak punya jawaban.

Tapi karena tidak semua hal harus dijawab.

Setelah kejadian itu, aku hanya ikut sekali lagi ke cabang yang berbeda.

Aku tetap mencoba memahami prosesnya.

Tetap belajar.

Tetap mengikuti.

Tapi di dalam hati masih ada rasa tidak terima.

Karena aku tahu pekerjaan tersebut sebenarnya bukan bagian utama dari pekerjaanku.

Dan menurutku, pekerjaan yang sangat teknikal seperti itu seharusnya dilakukan oleh orang yang memang sudah mempunyai pemahaman dan pengalaman di bidang tersebut.

Yang membuatku semakin bingung, dari timku sendiri kenapa justru aku yang terus ditugaskan?

Ada dua rekan kerja lain.

Tapi mereka tidak dilibatkan.

Alasan yang kudengar, mungkin karena aku mengurus administrasi, rekap laporan bulanan, dan update policy.

Tapi menurutku, dua pekerjaan tersebut adalah hal yang berbeda dengan pekerjaan teknikal di lapangan.

Aku tidak mengatakan aku tidak mau membantu.

Aku hanya ingin pekerjaan itu dilakukan dengan orang yang tepat.

Karena ketika kita berbicara soal sistem yang harus tetap berjalan, tanggung jawabnya bukan lagi kecil.

Dan Minggu ini, aku kembali mendapatkan jadwal untuk melakukan pekerjaan tersebut di salah satu cabang di Jakarta.

Kali ini aku menolak untuk melakukannya sendiri.

Bukan karena aku malas.

Bukan karena aku tidak mau belajar.

Tapi karena aku tahu batas kemampuan diriku.

Aku belum cukup memahami perkabelan.

Aku belum cukup menguasai command yang digunakan.

Aku belum cukup memahami jaringan dan firewall.

Dan kalau sampai terjadi sesuatu saat aku sendirian?

Aku takut malah panik.

Aku butuh orang yang bisa menjadi backup.

Karena menurutku, berani menerima pekerjaan bukan berarti harus berani mengerjakannya sendirian tanpa dukungan.

Ada perbedaan antara berani belajar dan asal berani mengambil risiko.

Dan menurutku, kali ini aku harus tahu batasnya.

Aku juga sempat meminta bantuan salah satu teman laki-laki di timku.

Kalau suatu saat aku tidak bisa, aku berharap dia bisa membantu menjadi backup.

Tapi dia juga tipe orang yang agak sulit maju dan menyampaikan apa yang sebenarnya dia inginkan.

Padahal kalau memang dia mau melakukan pekerjaan tersebut, menurutku tidak ada salahnya untuk bicara.

Karena dalam pekerjaan, kadang kita tidak akan mendapatkan kesempatan kalau kita sendiri tidak pernah mengatakan bahwa kita siap.

Dan mungkin aku pun masih belajar soal itu.

Belajar mengatakan “iya”.

Belajar mengatakan “tidak”.

Belajar menerima.

Belajar menolak.

Dan yang paling sulit...

Belajar tahu kapan harus berbesar hati dan kapan harus berdiri untuk diri sendiri.

Mungkin dari sinilah aku akhirnya mengerti kenapa tema bulan ini adalah Besar.

Besar ternyata bukan cuma soal sesuatu yang ukurannya besar.

Besar bisa berarti Tanggung Jawab.

Bisa berarti Tekanan.

Bisa berarti Harapan.

Bisa berarti Keberanian.

Bisa berarti rasa Takut yang kita coba lawan.

Bisa berarti masalah yang kelihatannya kecil, tetapi ternyata punya dampak yang besar.

Dan bisa juga berarti...

hati.

Hati yang besar untuk menerima sesuatu yang bukan kemauan kita.

Hati yang besar untuk tetap bekerja meskipun pernah dibicarakan.

Hati yang besar untuk belajar sesuatu yang bukan bidang kita.

Tapi ternyata...

Berbesar hati bukan berarti harus menerima semuanya.

Kadang justru kita perlu punya hati yang cukup besar untuk mengatakan:

“Maaf, aku belum mampu melakukannya sendiri.”

Atau

“Aku bersedia belajar, tapi aku membutuhkan backup.”

Atau bahkan

“Pekerjaan ini bukan bidangku, jadi aku perlu orang yang lebih kompeten untuk mendampingi.”

Karena mengakui keterbatasan bukan berarti kita kecil.

Justru mungkin...

itu salah satu bentuk keberanian yang besar.

Aku masih belum tahu sampai kapan aku bisa mentoleransi semua ini.

Mungkin besok aku masih akan mengeluh.

Mungkin minggu depan aku masih akan panik melihat kabel-kabel di ruang server.

Mungkin tanganku masih akan basah kalau sistem tiba-tiba bermasalah.

Dan mungkin aku masih akan bertanya,

“Kenapa harus aku?”

Tapi setidaknya sekarang aku tahu satu hal.

Tidak semua hal besar harus kita taklukkan dengan menjadi orang yang paling hebat.

Kadang kita hanya perlu menjadi orang yang cukup berani untuk mengakui bahwa sesuatu memang besar.

Karena terlihat gampang bukan berarti tanggung jawabnya kecil.

Dan memikul sesuatu yang besar...

tidak selalu membutuhkan tenaga yang besar.

Kadang hanya membutuhkan...

Hati yang cukup besar.

 

Terbit di Majalah Online

No comments:

Post a Comment