“Mba Put, Tema Cantante bulan September apa?” tanyaku lewat WhatsApp.
“Besar...” balas
Mba Put.
“Anyway, aku
udah kirim email ya mengenai ini...” sambungnya lagi.
“Oh, oke. I’ll
check,” jawabku segera.
Sambil membuka
laman email, aku malah berpikir, “Hmm... besar ya? Hahaha. Apanya yang
besar, ya?”
Entah kenapa,
satu kata itu langsung membuat pikiranku ke mana-mana. Aku bahkan sempat
ketawa-ketawa kecil sendiri di depan laptop.
Untung nggak ada
yang lihat.
Kalau ada yang
lihat, mungkin dikira aku sedang baca email penting, padahal sedang bengong
mikirin kata Besar.
Laman Outlook
sudah terbuka. Aku cek inbox, scroll ke bawah, lalu scroll lagi.
Kok nggak ada?
Email terakhir
dari Tim Cantante ternyata masih tanggal 23 Agustus 2026.
“Wah,
jangan-jangan dikirim ke Gmail aku, nih.”
Aku pun langsung
chat Mba Put, salah satu owner Majalah Cantante.
“Mba Put, kagak
ada email dari Cantante di Hotmail aku. Terakhir tanggal 23 itu aja. Mba Put
kirimnya ke Gmail, yak?”
Sambil mengirim
pesan, aku langsung membuka menu Internet Options di laptop.
Aduh...
Kalau sudah
begini, mau buka Gmail saja harus berurusan dengan proxy.
Maklum, aku
pakai laptop dan jaringan kantor. Beberapa akses internet memang dibatasi
karena sistem di kantor lebih banyak menggunakan ekosistem Microsoft. Jadi
kalau mau buka Gmail dan beberapa layanan lain, kadang aku harus mematikan
proxy terlebih dahulu.
Ribet?
Iya.
Tapi sudah
biasa.
Setelah proxy
dimatikan, Gmail akhirnya bisa dibuka.
Dan...
Yup.
Benar saja.
Email dari Tim
Cantante ternyata masuk ke Gmail-ku.
“Yaaa ada nih
emailnya, hahaha. Gmail aku kagak bisa buka kalau di kantor. Proxynya kudu
dimatiin. Di kantor pakenya Microsoft.”
Anjaaaay.
Gaya banget
bahasanya.
Aku juga nggak
tahu apa yang ada di pikiran Mba Put membaca chat-ku saat itu. Mungkin Dia cuma
geleng-geleng kepala.
“Hahaha, iya
masuk ke Gmail kayaknya. Mau aku daftarin yang Hotmail aja?”
“Iya, Hotmail
aja, Mba...” balasku cepat.
“Oke.”
Selesai.
Urusan email
beres.
Tapi urusan yang
satu lagi belum.
Pemantik
Cantante bulan ini BESAR.
Dan sejak saat
itu, satu kata tersebut seperti mengikuti ke mana pun aku pergi.
Aku coba mencari
inspirasi dari blog lamaku.
Blog yang sudah old
banget.
Siapa tahu ada
tulisan lama yang bisa disambungkan dengan tema “Besar”. Aku baca beberapa
tulisan yang pernah kubuat dulu.
Satu per satu.
Ternyata...
Nggak ada yang
pas.
Aku malah makin
mikir.
Besar.
Bertumbuh
menjadi besar.
Punya harapan
yang besar.
Mimpi yang
besar.
Cinta yang
besar.
Masalah yang
besar.
Pengeluaran yang
besar.
Badan yang
membesar.
Besar kepala.
Eh?
Besar
kepala dari pada Tiang?
Lho?
Kok malah makin
ngaco?
Nah, kan.
Akhirnya
pikiranku benar-benar membesar ke mana-mana.
Sampai suatu
ketika ada sesuatu yang benar-benar terasa “besar” dan ingin segera
kukeluarkan.
Alias...
Kebelet.
Aku buru-buru
pergi ke tempat tongkrongan sambil berharap, siapa tahu inspirasi datang di
sana.
Bukannya dapat
inspirasi, aku malah scroll TikTok.
Dan lagi-lagi
kata “besar” muncul dalam berbagai bentuk.
Cinta yang
besar.
Badan yang
membesar.
Pengeluaran yang
besar.
Harapan yang
besar.
Aduh...
Kenapa sih harus
tema Besar?
Aku jadi
overthinking sendiri.
Setelah
menyelesaikan hajat kebeletku.
Akhirnya aku
kembali ke meja.
Aku buka laptop.
Lalu mencoba
menulis apa pun yang muncul di kepala.
Tapi yang muncul
tetap sama.
Besar.
Besar. Besar.
Aku sampai
bingung sendiri.
Kalau tema besar
yang dibahas cuma tentang mimpi besar, cinta besar, atau cita-cita besar,
rasanya terlalu biasa.
Aku ingin
mencari sesuatu yang lebih dekat.
Sesuatu yang
benar-benar aku alami.
Dan akhirnya aku
menemukan satu hal
Hati
yang besar.
Apakah kita
punya hati yang cukup besar untuk menerima sesuatu yang sebenarnya bukan mau
kita?
Pertanyaan itu
sederhana.
Tapi jawabannya
tidak.
Dalam karier,
misalnya.
Kadang kita
mendapatkan pekerjaan yang tidak kita inginkan.
Kadang kita
harus mengerjakan sesuatu yang bukan bidang kita.
Kadang kita
harus menerima keputusan yang menurut kita kurang tepat.
Kadang kita
ingin bilang,
“Kenapa
harus aku?”
Tapi tetap saja
kita mengerjakannya.
Mungkin karena
kita masih membutuhkan pekerjaan.
Mungkin karena
kita nggak enakan.
Mungkin karena
ingin belajar.
Atau mungkin
karena memang tidak punya pilihan lain.
Dan itulah yang
sedang aku alami belakangan ini.
Aku bekerja
sebagai IT di salah satu perusahaan swasta di Jakarta yang bergerak di bidang
Keuangan.
Tapi menjadi IT
bukan berarti aku bisa melakukan semua hal yang berhubungan dengan teknologi.
IT itu luas.
Luas banget.
Kalau semua
bagian IT aku jelaskan di sini, bisa-bisa satu edisi Cantante isinya cuma
tulisan aku.
Jadi biar
gampang, kita ambil tiga contoh saja.
Ada IT Access,
tempatku bekerja.
Ada IT
Infrastructure.
Dan ada IT
Security.
Kurang lebih
seperti itu.
Di IT Access,
pekerjaan utamaku berkaitan dengan pengelolaan akses karyawan dan privilege
user terhadap aplikasi-aplikasi yang digunakan perusahaan.
Sederhananya,
aku lebih banyak mengurus
“Siapa boleh
masuk ke mana?”
“User ini punya
akses apa?”
“Privilege-nya
sudah sesuai belum?”
Dan hal-hal
administratif maupun pengelolaan akses lainnya.
Tapi sekitar dua
bulan terakhir, aku mendapatkan tugas tambahan yang sifatnya cukup teknikal.
Aku ditugaskan
ikut melakukan proses upgrade versi firewall di beberapa cabang.
Nah...
Di sinilah
ceritanya mulai “besar”.
Kalau dibaca
sekilas, tugasnya kelihatan gampang.
Masuk ke ruang
server.
Ruangan dingin.
Lihat perangkat.
Ganti kabel dari
perangkat lama ke perangkat baru.
Selesai.
Gampang,
kan?
Nggak
juga.
Karena yang
terlihat cuma memindahkan kabel.
Padahal di balik
kabel-kabel yang bentuknya menurutku hampir sama semua itu ada sistem jaringan,
firewall, konfigurasi, monitoring, dan banyak hal teknis lain yang harus
dipahami.
Dan yang paling
bikin deg-degan
Sistem
tidak boleh down.
Karena kalau
sampai jaringan di cabang tersebut bermasalah, aktivitas operasional bisa ikut
terganggu.
Bayangkan saja.
Satu kabel
salah.
Satu konfigurasi
bermasalah.
Satu proses
tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Yang tadinya
cuma mau “upgrade perangkat” bisa berubah menjadi masalah besar.
Itulah kenapa
pekerjaan yang terlihat sederhana ternyata mempunyai tanggung jawab yang besar.
Pertama kali aku
ikut ke salah satu cabang, kondisi tubuh dan pikiranku sebenarnya sedang tidak
terlalu baik.
Tapi tetap aku
jalani.
Aku didampingi
oleh salah satu teman dari IT Infrastructure yang memang sudah lebih
berpengalaman.
Dia mengajarkan
alurnya.
Aku mencoba
memahami.
Aku melihat
bagaimana perangkat dipindahkan, bagaimana kabel-kabel disesuaikan, bagaimana
jaringan dimonitor, sampai bagaimana menggunakan command prompt yang layar
hitam itu untuk melihat kondisi sistem selama proses berlangsung.
Aku sebenarnya
bisa memahami penjelasannya.
Aku mengerti
alurnya.
Tapi ketika
harus melakukan prosesnya secara langsung?
Jujur...
Ngeri-ngeri
sedap.
Bukan karena aku
tidak mau belajar hal baru.
Bukan juga
karena aku merasa pekerjaan tersebut terlalu sulit untuk dipelajari.
Tapi aku sadar
dengan kapasitas ilmu yang aku punya.
Bidang utamaku
memang bukan networking atau firewall.
Aku takut kalau
terjadi sesuatu, aku tidak tahu harus berbuat apa.
Dan orang yang
panikan seperti aku kalau sudah melihat sesuatu tidak berjalan sesuai
rencana...
Wah.
Tangan bisa
langsung basah.
Jantung mulai
ikut meeting.
Otak mulai buka
seratus tab sekaligus.
“Ini kenapa?”
“Harus ngapain?”
“Kalau down
gimana?”
“Siapa yang bisa
bantu?”
“Ini kabel yang
mana?”
“Eh tadi kabel
yang mana?”
Begitulah
kira-kira isi kepala.
Sehari setelah
melakukan proses tersebut, aku malah jatuh sakit.
Sampai harus
dirawat.
Hahaha.
Entah ada
hubungannya atau tidak, aku juga nggak mau sok tahu.
Tapi saat itu
kondisi tubuhku memang sedang drop.
Aku bahkan
terkena influenza A dan harus menjalani isolasi.
Dan ketika
sedang sakit itu, ternyata ada cerita lain yang sampai ke telingaku.
Aku tahu ada
beberapa orang dari tim lain yang membicarakanku.
Katanya aku
sakit karena diberikan pekerjaan tersebut dan ada yang bilang aku menolak untuk
mengerjakan itu, padahal bicara langsung dengan atasan ku saja mengenai hal ini
belum ada. Aku justru mengetahui semuanya dari obrolan orang lain, orang yang
bahkan tidak memiliki keterlibatan langsung dalam hal itu, yang lebih membuatku
heran, justru ada beberapa orang yang sebenarnya tidak berada dalam ranah
pekerjaan tersebut ikut campur. Mereka ikut mengompori dan menambahkan bumbu ke
dalam cerita tersebut.
Awalnya?
Sedih.
Marah juga.
“Orang
lagi sakit kok malah dibicarain?”
Yang lebih bikin
sedih, nggak ada satu pun dari mereka yang datang menjenguk.
Ucapan pun tidak
ada.
Tapi ya
sudahlah.
Aku masih butuh
pekerjaan.
Jadi akhirnya
aku belajar satu hal:
Kadang
kita memang harus berbesar hati untuk tidak membalas semua hal yang menyakiti
kita.
Bukan karena
kita tidak punya jawaban.
Tapi karena
tidak semua hal harus dijawab.
Setelah kejadian
itu, aku hanya ikut sekali lagi ke cabang yang berbeda.
Aku tetap
mencoba memahami prosesnya.
Tetap belajar.
Tetap mengikuti.
Tapi di dalam
hati masih ada rasa tidak terima.
Karena aku tahu
pekerjaan tersebut sebenarnya bukan bagian utama dari pekerjaanku.
Dan menurutku,
pekerjaan yang sangat teknikal seperti itu seharusnya dilakukan oleh orang yang
memang sudah mempunyai pemahaman dan pengalaman di bidang tersebut.
Yang membuatku
semakin bingung, dari timku sendiri kenapa justru aku yang terus ditugaskan?
Ada dua rekan
kerja lain.
Tapi mereka
tidak dilibatkan.
Alasan yang
kudengar, mungkin karena aku mengurus administrasi, rekap laporan bulanan, dan
update policy.
Tapi menurutku,
dua pekerjaan tersebut adalah hal yang berbeda dengan pekerjaan teknikal di
lapangan.
Aku tidak
mengatakan aku tidak mau membantu.
Aku hanya ingin
pekerjaan itu dilakukan dengan orang yang tepat.
Karena ketika
kita berbicara soal sistem yang harus tetap berjalan, tanggung jawabnya bukan
lagi kecil.
Dan Minggu ini,
aku kembali mendapatkan jadwal untuk melakukan pekerjaan tersebut di salah satu
cabang di Jakarta.
Kali ini aku
menolak untuk melakukannya sendiri.
Bukan karena aku
malas.
Bukan karena aku
tidak mau belajar.
Tapi karena aku
tahu batas kemampuan diriku.
Aku belum cukup
memahami perkabelan.
Aku belum cukup
menguasai command yang digunakan.
Aku belum cukup
memahami jaringan dan firewall.
Dan kalau sampai
terjadi sesuatu saat aku sendirian?
Aku takut malah
panik.
Aku butuh orang
yang bisa menjadi backup.
Karena
menurutku, berani menerima pekerjaan bukan berarti harus berani mengerjakannya
sendirian tanpa dukungan.
Ada perbedaan
antara berani belajar dan asal berani mengambil risiko.
Dan menurutku,
kali ini aku harus tahu batasnya.
Aku juga sempat
meminta bantuan salah satu teman laki-laki di timku.
Kalau suatu saat
aku tidak bisa, aku berharap dia bisa membantu menjadi backup.
Tapi dia juga
tipe orang yang agak sulit maju dan menyampaikan apa yang sebenarnya dia
inginkan.
Padahal kalau
memang dia mau melakukan pekerjaan tersebut, menurutku tidak ada salahnya untuk
bicara.
Karena dalam
pekerjaan, kadang kita tidak akan mendapatkan kesempatan kalau kita sendiri
tidak pernah mengatakan bahwa kita siap.
Dan mungkin aku
pun masih belajar soal itu.
Belajar
mengatakan “iya”.
Belajar
mengatakan “tidak”.
Belajar
menerima.
Belajar menolak.
Dan yang paling
sulit...
Belajar
tahu kapan harus berbesar hati dan kapan harus berdiri untuk diri sendiri.
Mungkin dari
sinilah aku akhirnya mengerti kenapa tema bulan ini adalah Besar.
Besar ternyata
bukan cuma soal sesuatu yang ukurannya besar.
Besar bisa
berarti Tanggung Jawab.
Bisa berarti Tekanan.
Bisa berarti Harapan.
Bisa berarti Keberanian.
Bisa berarti
rasa Takut yang kita coba lawan.
Bisa berarti
masalah yang kelihatannya kecil, tetapi ternyata punya dampak yang besar.
Dan bisa juga
berarti...
hati.
Hati yang besar
untuk menerima sesuatu yang bukan kemauan kita.
Hati yang besar
untuk tetap bekerja meskipun pernah dibicarakan.
Hati yang besar
untuk belajar sesuatu yang bukan bidang kita.
Tapi ternyata...
Berbesar
hati bukan berarti harus menerima semuanya.
Kadang justru
kita perlu punya hati yang cukup besar untuk mengatakan:
“Maaf, aku belum
mampu melakukannya sendiri.”
Atau
“Aku bersedia
belajar, tapi aku membutuhkan backup.”
Atau bahkan
“Pekerjaan ini
bukan bidangku, jadi aku perlu orang yang lebih kompeten untuk mendampingi.”
Karena mengakui
keterbatasan bukan berarti kita kecil.
Justru
mungkin...
itu
salah satu bentuk keberanian yang besar.
Aku masih belum
tahu sampai kapan aku bisa mentoleransi semua ini.
Mungkin besok
aku masih akan mengeluh.
Mungkin minggu
depan aku masih akan panik melihat kabel-kabel di ruang server.
Mungkin tanganku
masih akan basah kalau sistem tiba-tiba bermasalah.
Dan mungkin aku
masih akan bertanya,
“Kenapa
harus aku?”
Tapi setidaknya
sekarang aku tahu satu hal.
Tidak semua hal
besar harus kita taklukkan dengan menjadi orang yang paling hebat.
Kadang kita
hanya perlu menjadi orang yang cukup berani untuk mengakui bahwa sesuatu memang
besar.
Karena terlihat
gampang bukan berarti tanggung jawabnya kecil.
Dan memikul
sesuatu yang besar...
tidak
selalu membutuhkan tenaga yang besar.
Kadang hanya
membutuhkan...
Hati
yang cukup besar.



























No comments:
Post a Comment