Entah sejak kapan, aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh
dalam persahabatanku dengan DJ dan Fahad. Siang itu, DJ mengajakku ke kantin
untuk membeli cemilan karena stok kami sudah hampir habis. Saat sedang memilih
makanan, tiba-tiba DJ bertemu dengan teman satu ekskul basketnya dulu.
“Eh, Fahad!” sapa DJ.
Cowok itu pun menoleh dan menghampiri kami. Namanya
Fahad. Jujur saja, kesan pertamaku saat melihatnya adalah: cowok ini cukup
menarik. Tubuhnya tinggi, hidungnya mancung, alisnya tebal, serta kulit cokelat
yang membuatnya terlihat seperti perpaduan Arab dan Indonesia.
Namun, bukan hanya penampilannya yang membuatku terkesan,
Fahad juga ramah dan supel. Ia mudah bergaul dan tidak pernah membeda-bedakan
orang saat bertemab. Setidaknya, itulah kesan pertama kutangkap saat berkenalan
dengannya.
Sejak hari itu, semuanya berjalan begitu saja. Tanpa
sadar, aku, DJ dan Fahad menjadi sangat akrab. Kami sering menghabiskan waktu
bersama, pergi ke kantin bersama, pulang sekolah bersama, bahkan sekedar
mengobrol tentang hal-hal tidak penting pun terasa menyenangkan.
Bersama mereka, aku merasa nyaman. Terlalu nyaman bahkan
sampai sering lupa bahwa sebenarnya aku sangat berbeda dari mereka.
DJ dan Fahad sama-sama tinggi dan atletis, sedangkan aku?
Yah... bisa dibilang jauh dari kategori itu. Kadang aku bercanda pada diri
sendiri kalau tinggiku mungkin cuma setengah dari mereka. Oke, itu memang agak
berlebihan.
Tapi serius, perbedaan itu tidak pernah membuat mereka
memperlakukanku dengan cara yang berbeda. Mereka tetap bersikap biasa saja,
seolah aku sama kerennya dengan mereka.
Eh, tunggu. Sebelum kalian membayangkan aku sependeka
anak SD, aku luruskan dulu. Tinggi DJ sekitar 165 cm, Fahad 180 cm dan aku 150
cm. Jadi memang pendek sih... tapi tidak separah yang kubayangkan sendiri.
Walaupun kadang tetap bikin insecure. Hiks, hiks, hiks.
Fahad termasuk orang yang murah hati. Entah sudah berapa
kali dia memberi aku dan DJ camilan, cokelat, atau sekedar mentraktir kami
bakso sepulang sekolah. Awalnya aku menganggap itu hal yang biasa. Tapi
lama-kelamaan, aku jadi merasa nggak enak sendiri. Rasanya terlalu sering
menerima tanpa bisa membalas apa-apa.
Namun, ada hal lain yang jauh lebih menggangguku.
Entah sejak kapan, hubungan DJ dan Fahad mulai terasa
aneh. Padahal sebelumnya mereka terlihat baik baik saja. Mereka masih bercanda
seperti biasa, masih sering bersama, tapi ada sesuatu yang berubah. Aku bisa
merasakannya, meskipun tidak benar-benar mengerti apa.
Yang membuatku bingung, mereka mulai saling
menjelek-jelekkan di depanku.
Saat sedang berdua denganku, DJ tiba tiba mengeluhkan
Fahad. Katanya Fahad begini, Fahad begitu. Anehnya, beberapa hari kemudian
Fahad melakukan hal yang yang sama. Dia juga bercerita tentang hal-hal yang
tidak disukainya dari DJ.
Aku cuma bisa mengedip bingung.
Hei, sebenarnya ada apa sih dengan kalian berdua?
Jujur saja, aku heran. Di depanku mereka masih terlihat
akur. Tapi begitu salah satunya tidak ada, yang lain mulai mengeluh.
Suatu siang, aku tidak sengaja bertemu Fahad di kantin.
Karena sama-sama tidak punya kegiatan, kami akhirnya duduk dan mengobrol sampai
sore. Topiknya macam-macam, mulai dari tugas sekolah sampai hal-hal random yang
bahkan tidak penting.
Sampai tiba-tiba Fahad berkata,
“Dee... aku sebel sama DJ.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
Fahad mengangkat bahu. “Nggak tahu. Kayaknya dia sok
banget akhir-akhir ini.”
Aku terdiam beberapa detik.
Lagi-lagi DJ.
Lagi-lagi keluhan tentan DJ.
Anehnya, beberapa hari sebelumnya aku juga mendengar
keluhan yang hampir mirip dari DJ tentang Fahad.
Saat itu aku hanya bisa tersenyum kikuk. Aku bener-bener
tidak tahu harus berkata apa. Rasanya seperti terjebak ditengah-tengah dua
sahabat yang diam-diam sedang berperang, sementara aku bahkan tidak tahu apa
penyebabnya.
Malam itu, sepulang dari minimarket, aku dan DJ
memutuskan berjalan-jalan sebentar disekitar komplek. Udara malam terasa cukup
sejuk, membuat kami betah mengobrol lebih lama dari biasanya.
Saat sedang berjalan santai, tiba-tiba DJ bersuara.
“Ih, Dee, DJ sebel tau sama Fahad. Dia sekarang sok cuek
banget sama DJ.”
Aku langsung menoleh.
Lagi-lagi Fahad.
Jujur saja, aku mulai merasa tidak nyaman berada di
posisi ini, di satu sisi DJ adalah sahabatku. Di sisi lain, Fahad juga teman
yang baik. Tapi akhir-akhir ini mereka terus mengeluhkan satu sama lin di
depanku.
Sebenarnya aku harus bagaimana, sih?
Yang membuatku semakin bingung, sikap mereka kepadaku
tidak berubah sama sekali. Mereka tetap bersikap baik seperti biasanya.
Bahkan Fahad malah semakin serig mengajakku bicara.
Anehnya lagi, dia beberapa kali mentraktirku tanpa mengajak DJ. Kadang dia
memberiku camilan, kadang coklat atau sekedar makanan favoritku.
Tentu saja aku tidak enak hati.
Karena itulah setiap kali Fahad memberiku sesuatu, aku
selalu teringat pada DJ. Aku sering membagi apa pun yang diberikan Fahad
kepadaku. Rasanya tidak adil jika hanya aku yang menikmatinya.
Tapi yang aneh, DJ selalu menolak.
Suatu hari aku membawa sandwich ke kelasnya. Aku sengaja
tidak mengatakan siapa yang memberikannya.
“Nih, makan dulu,”kataku sambil menyerahkan sandwich itu.
Tanpa curiga, DJ menerimanya lalu mulai makan. Setengah
sandwich berhasil dia habiskan.
Aku yang merasa tidak enak akhirnya berkata jujur.
“Oh ya, tadi itu dari Fahad, lho. Aku ketemu dia di
bawah, terus dia ngasih...”
Kalimatku bahkan belum sempat selesai.
DJ langsung menghentikan makannya.
Wajahnya berubah seketika.
Tanpa mengatakan apa-apa, dia menyodorkan kembali
sandwich itu ke tanganku, lalu berdiri dan masuk ke dalam kelas.
Begitu saja.
Aku hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kelas
dengan setengah sandwich di tangan.
Bingung.
Heran.
Dan semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang
terjadi di antara mereka berdua.
Parahnya, hanya karena Fahad dan sebungkus bakso Malang,
aku sampai bertengkar hebat dengan DJ. Sejak saat itu, persahabatanku dengannya
mulai merenggang.
Kejadiannya terjadi sehari setelah ulang tahunku,
tepatnya hari Minggu. Hari itu Fahad mengajakku makan bakso Malang. Anehnya,
dia hanya mengajakku dan tidak mengajak DJ. Karena merasa tidak enak, aku tetap
menawarkan agar DJ ikut bersama kami.
"Ya terserah," jawab Fahad malas.
Aku pun mengajak DJ, tetapi dia langsung menolak
mentah-mentah. Ya sudah, mau bagaimana lagi.
Jujur saja, saat itu aku sempat GR. Aku heran kenapa
Fahad tiba-tiba jadi baik sekali kepadaku tepat saat moment ulang tahunku.
Meskipun tidak mau ikut makan bersama, DJ sempat berkata,
"Kalau gitu titip satu porsi bakso Malang, dibungkus
ya." Dan DJ memberikan uang sebesar Rp.50.000,-
Saat aku dan Fahad sedang memesan bakso, aku sekalian
memesan satu porsi untuk dibawa pulang. Fahad terlihat heran.
"Buat siapa?"
"Buat DJ," jawabku.
Mendengar itu, Fahad hanya mengangkat bahu. Dari
ekspresinya aku tahu dia tidak berniat membayarkan pesanan untuk DJ. Aku juga
tidak terlalu berharap toh DJ sudah memberikan uangnya untuk beli bakso
tersebut.
Masalahnya, saat akan membayar, uangnya ternyata pas dan
tidak ada kembalian. Akhirnya Fahad yang membayar semuanya, termasuk bakso
bungkus untuk DJ. Aku langsung merasa tidak enak.
Sesampainya di rumah DJ, aku langsung menyerahkan bakso
pesanannya. Dia menerimanya dengan sebuah senyum yang entah kenapa sulit
kuartikan.
Lalu tiba-tiba dia bertanya,
"Mana kembalian uangnya? Aku mau beli es."
Aku langsung panik.
Kalau aku jujur bahwa bakso itu dibelikan Fahad, aku
yakin DJ akan marah. Tapi kalau berbohong, aku juga merasa bersalah.
Akhirnya aku memilih jalan yang salah.
"Uangnya kebawa sama Lala tadi sempat nitip, karna
tadi sempat bareng pulangnya ," bohongku. Lala yang suka bantu – bantu
dirumahku
DJ mengangguk begitu saja.
Aku mengembuskan napas lega. Dalam pikiranku, nanti aku
tinggal menukar uang dan menggantinya. Beres.
Tapi ternyata masalahnya tidak selesai sampai di situ.
Sebenarnya aku ingin jujur sejak awal. Lagi pula aku juga
bersyukur karena Fahad sudah membantu membayar. Aku benar-benar tidak mengerti
kenapa DJ begitu tidak suka menerima apa pun dari Fahad.
Dan yang lebih membuatku kesal, aku terus berada di
posisi yang serba salah.
Sayangnya, aku malah lupa menukar uang itu.
Sorenya, saat aku sedang berjalan bersama DJ di taman,
dia kembali menanyakan uang tersebut. Aku asal menjawab bahwa aku belum
membawanya.
Awalnya aku pikir semuanya aman.
Ternyata tidak.
Iseng aku bertanya,
"Bakso Malangnya udah dimakan belum?"
DJ menjawab datar,
"Udah aku buang."
Aku langsung berhenti melangkah.
"Hah? Dibuang?"
Jujur saja, saat itu aku kesal setengah mati. Aku tau DJ sedang
bokek, tapi dia malah membuang makanan begitu saja.
Barulah aku sadar.
Entah bagaimana caranya, DJ ternyata sudah tahu kalau
bakso itu dibelikan oleh Fahad.
Aku berusaha menjelaskan, tetapi dia sama sekali tidak
mau mendengarkan.
Sejak saat itulah hubunganku dengan DJ mulai berubah.
Kami sering saling diam, saling menghindar, dan tidak lagi sedekat dulu.
Aku sudah berkali-kali mencoba meminta maaf, tetapi
semuanya sia-sia. DJ tetap bersikap dingin. Sedih sekali rasanya.
Hanya karena Fahad, seseorang yang baru kukenal beberapa
bulan, aku harus kehilangan kedekatan dengan sahabat yang sudah lama
menemaniku.
Belakangan, aku akhirnya mengetahui alasan di balik semua
keanehan itu. Ternyata Fahad menyukai DJ. Sayangnya, perasaannya ditolak karena
saat itu DJ sudah menyukai seseorang, Heidi, anak tim basket juga. Dan yang
membuatku semakin kesal, tanpa sadar aku justru terseret ke dalam masalah
mereka.
Aku mulai curiga Fahad sengaja mendekatiku untuk membuat
DJ cemburu. Sementara itu, DJ malah menganggap aku sebagai penyebab semuanya. Menurut
DJ, aku tidak tahu terima kasih. Dia merasa akulah yang "merebut"
Fahad darinya, padahal yang mengenalkan Fahad kepadaku sejak awal adalah
dirinya sendiri. Seolah-olah semua kesalahan ada padaku. Padahal aku tidak
pernah meminta berada di posisi itu. Aku hanya ingin berteman dengan mereka
berdua.
Kadang kalau mengingat semuanya sekarang, aku masih
merasa kesal. Mereka sama-sama sibuk dengan perasaan dan ego masing-masing,
sementara aku terjebak di tengah-tengah tanpa tahu harus berpihak ke siapa.
Dan mungkin yang paling menyakitkan bukanlah pertengkaran
itu. Melainkan kenyataan bahwa tidak satu pun dari mereka menyadari betapa
tidak nyamannya posisi yang harus kujalani saat itu.
Saat itu, aku merasa Fahad mengambil kesempatan dalam
kesempitan. Akibatnya, kesempatan yang kumiliki untuk mempertahankan
persahabatan dengan mereka perlahan lenyap. Pada akhirnya, tidak ada lagi
kesempatan bagiku untuk tetap berteman baik dengan mereka. Dan di sisi lain,
kesempatan Fahad untuk menjalin hubungan dengan DJ ternyata juga tidak pernah
ada sejak awal.
Pernah Terbit di Majalah Online



























No comments:
Post a Comment