Awalnya aku sedang mencari foto atau video bersama Abang Djago untuk diposting dan mengucapkan selamat ulang tahun. Kebetulan ponakanku sedang berulang tahun. Memang dia bukan keponakan sedarah, tapi aku dan ibunya, Meylan, sudah seperti saudara sendiri karena kami memang dekat.
Tapi di tengah aku mencari foto dan video itu, tiba-tiba aku scroll TikTok dan menemukan sosok aku… dan sosok kita saat itu.
Atau mungkin lebih tepatnya, aku menemukan kembali diriku yang dulu, sebelum menjadi “kita”.
Di sana, aku melihat aku yang begitu menikmati hidup. Aku terlihat bahagia. Padahal kalau diingat-ingat lagi, saat itu aku juga sedang melalui proses yang tidak mudah. Sedang galau, sedang berusaha melewati sakit hati karena hubungan yang tidak berkesudahan dengan orang yang berbeda-beda. Kondisi finansial pun sebenarnya tidak sedang baik-baik saja.
Tapi anehnya, aku tetap bisa menikmati hidup.
Aku tetap pergi, bertemu banyak orang, menambah teman, mencoba hal-hal baru, mengumpulkan pengalaman, tertawa, dan menjalani hari sebisaku.
Dan yang paling aku ingat…
Aku melewati semuanya sendiri.
Bukan berarti saat itu aku tidak pernah sedih. Aku tetap sedih. Tetap pernah merasa hancur. Tapi entah bagaimana, aku tetap bisa menemukan cara untuk menikmati hidup.
Sampai akhirnya aku berpikir,
“Dulu aku bisa seperti itu. Kenapa sekarang rasanya agak sulit, ya?”
Aku sendiri sampai sekarang tidak benar-benar tahu jawabannya.
Mungkin aku tahu penyebabnya, tapi masih bertanya-tanya apakah memang itu penyebab sebenarnya. Atau mungkin aku hanya sedang shock dengan banyak hal yang terjadi sekaligus.
Tapi mungkin tidak apa-apa.
Jadi, mari ceria lagi.
Mari menikmati hidup lagi.
Seperti dulu.
Percaya bahwa rezeki akan datang dari mana pun dan melalui jalan apa pun yang Allah izinkan.
Dan kemudian aku teringat…
KITA.
Hai, kita.
Kita dulu pernah sebahagia itu.
Pernah menikmati hidup sesederhana itu.
Kadang apa adanya, kadang ada apanya. Kadang semuanya terasa mudah, kadang tidak. Tapi kita tetap bisa menikmatinya.
Itu sebelum kita mendapatkan ujian yang harus kita hadapi.
Dan ternyata…
Kita bisa melewatinya.
Memang setelah itu masih ada ujian lain. Sampai sekarang pun mungkin masih ada. Tapi sekali lagi, kita tetap bisa melewatinya.
Aku jadi ingat bagaimana dulu kita pernah berjanji untuk mengarungi kehidupan bersama.
Kita pernah tertawa bersama.
Menangis bersama.
Berantem.
Kesal.
Berdamai.
Bercerita tentang banyak hal.
Apa pun yang terjadi, rasanya selalu ada “kita” di dalamnya.
Dan sekarang aku bertanya kepada diri sendiri…
Kalau dulu kita bisa melewati begitu banyak hal, apakah satu ujian harus membuat kita lupa bagaimana bahagianya kita dulu?
Coba lihat lagi foto dan video itu.
Wow…
Ternyata kita pernah sebahagia itu.
Pernah seenjoy itu.
Pernah tertawa hanya karena hal-hal sederhana.
Bahkan ketika kamu datang mengunjungiku, selalu saja ada sesuatu yang akhirnya menjadi bahan tertawaan kita.
Lalu kenapa sekarang kita harus menghentikan semua itu hanya karena kita sedang diberikan ujian?
Bukankah hubungan bukan hanya tentang bagaimana kita bahagia ketika semuanya baik-baik saja?
Tapi juga tentang bagaimana kita belajar tetap bersama ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Bagaimana kita mengelola masalah.
Bagaimana kita saling memahami.
Bagaimana kita tetap memilih untuk tidak menyerah ketika keadaan sedang berat.
Aku pernah ingin menyerah.
Bahkan mungkin lebih dari sekali.
Aku pernah marah dengan keadaan kita.
Aku pernah kecewa.
Aku pernah bertanya-tanya kenapa semuanya harus terjadi seperti ini.
Tapi pada akhirnya, aku selalu memilih untuk tidak benar-benar menyerah.
Mungkin karena aku tahu…
Kita sedang melewati ujian yang besar.
Dan kalau memang ujian itu sudah kita lewati, seharusnya kita tidak hanya meninggalkan rasa sakitnya.
Kita juga membawa pelajarannya.
Kita belajar dari apa yang terjadi.
Kita memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.
Kita tumbuh menjadi versi yang lebih dewasa.
Versi kita yang lebih bijak.
Versi kita yang sudah tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Karena tidak semua hubungan akan selalu bahagia.
Dan mungkin memang tidak seharusnya begitu.
Bahagia itu relatif.
Begitu juga dengan cobaan.
Yang penting bukan apakah kita akan selalu bahagia, tapi bagaimana kita menjalani keduanya.
Jadi, kalau masih ada jalan…
Mari kita nikmati keduanya bersama.
Tentang orang-orang?
Biarkan mereka.
Orang yang benar-benar memahami kita tidak akan menjadikan ujian dalam hubungan kita sebagai bahan untuk menertawakan atau menghakimi.
Mereka yang tulus akan ikut bahagia ketika melihat kita berhasil melewati sesuatu yang berat.
Mereka tidak harus selalu setuju dengan pilihan kita.
Tapi mereka akan tetap menghargai bahwa hidup yang kita jalani adalah hidup kita.
Karena terkadang orang memang mudah menilai sesuatu yang tidak mereka jalani sendiri.
Mereka melihat dari luar.
Mereka tidak tahu apa yang kita rasakan.
Tidak tahu berapa banyak malam yang kita lewati dengan pikiran yang berat.
Tidak tahu berapa banyak hal yang sudah kita coba perbaiki.
Tidak tahu cerita lengkapnya.
Jadi, biarkan saja.
Kita tidak perlu menjelaskan semuanya kepada semua orang.
Yang penting adalah KITA.
Karena pada akhirnya…
KITA adalah KITA.
Bukan tentang bagaimana orang lain melihat kita.
Bukan tentang bagaimana mereka menilai perjalanan kita.
Tapi tentang bagaimana kita memilih untuk menjalani hidup ini.
Dan kalau suatu hari kita melihat kembali foto dan video itu lagi, aku ingin kita tersenyum.
Bukan karena ingin kembali ke masa lalu.
Tapi karena kita tahu…
Kita pernah bahagia.
Kita pernah berjuang.
Kita pernah jatuh.
Kita pernah hampir menyerah.
Tapi kita juga pernah memilih untuk bangkit.
Maka mungkin sekarang saatnya membuat versi baru dari kebahagiaan itu.
Bukan kembali menjadi kita yang dulu.
Tapi menjadi kita yang lebih dewasa, lebih bijak, lebih kuat, dan lebih tahu bagaimana cara menjaga apa yang kita punya.
Aku senang pernah melewati banyak hal bersamamu.
Dan kalau masih diberikan kesempatan…
Aku ingin menikmati hidup lagi.
Bersamamu.
Dengan versi kita yang baru.
KITA.
Hai, kita.
Mari hidup lagi.
Mari tertawa lagi.
Mari menikmati lagi.
Dan mari percaya bahwa setelah semua yang kita lewati…
masih ada banyak hal indah yang menunggu kita.
KITA adalah KITA.
KITA, Media yang Indah.



























No comments:
Post a Comment