Welcome to

Wednesday, 16 September 2026

Catatan yang Menggelikan November 2022

Kamu...

Kamu yang membuat aku percaya lagi apa itu Menikah

Kamu yang berkali kali meyakinkan ku untuk tidak merasa takut untuk Menikah

Kamu yang selalu menggebu agar hubungan ini segera disah kan menjadi sebuah Pernikahan

Kemudian ....

Aku menerima semua dengan bahagia walau masih merasa takut

tapi berkali kali kamu pun meyakin kan aku kalau KITA BISA menjalaninya

Kemudian...

Kita menyatukan Visi Misi mengenai Pernikahan yang akan kita jalani nanti

Kamu setuju , Aku setuju dan KITA setuju bahwa

Menikah biar kita ada temen sampe Tua

Ekonomi/Finance bentuk perjuangan bersama

Anak Bonus

Ibadah kita belajar sama sama supaya Kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi

Aku menerima mu karena Kamu adalah Temanku

Aku menerima mu karena Kita Sama

Kita saling mengetahui masa kelam yang pernah kita alami satu sama lain

oleh karena itu kita tidak perlu menutupi hal hal yang dianggap aneh oleh orang lain

Kita saling tau

Kemudian ....

Kita sepakat menjalin komunikasi yang baik,

Saling mengingatkan

Saling menjaga

Sembari saling mengingatkan diri masing masing ketika terjadi masalah kita tidak pernah mau lagi menyentuh Dunia itu bahkan Kita tidak boleh mengatakan Berakhir

Jika ada itu sudah pasti disebabkan karna Perselingkuhan

Kamu Selalu ku sebut dalam 1/3 Malam ku ketika aku berkomunikasi Intim bersama Nya

Kamu Selalu ku sebut dalam setiap Doa yang aku titipkan kepada Nya

Aku yang selalu khawatir jika terjadi sesuatu sama Kamu

terlebih jika kamu tidak ada kabar.

Aku yang terkadang masih takut jika kamu kembali ke Dunia itu

Ya.. Aku

Jika aku sudah berkomitmen bersama seseorang, aku tidak akan setengah menjalani nya

Tapi jika aku merasa diabaikan , tidak dihargai lagi .. entah laah

Waktu terus berlalu ... hubungan jarak jauh yang kita jalani masih terasa indah dan hal baru bagi Kita , walaupun jika ada apa apa selalu aku yang mencari mu

Sampai lah saat nya aku merasa komunikasi kita hubungan kita tidak bergerak maju untuk menjadi lebih saling mengenal satu sama lain diluar hal pertemanan

Saat itu aku langsung menyampaikan semua apa yang mengganjal dipikiran dan hati ku

Kamu paham dan kamu mengakui jika kita tidak pernah membangun komunikasi lebih dalam lagi

yang disebut Deep Talk , lalu cara kamu dll

Kamu berjanji akan merubahnya ...

itu adalah kali pertama aku menegur tentang hubungan kita

setelah itu yang terjadi ..

ya tidak terjadi apa apa

Semakin stuck ...dan semakin hilang

aku takut saat itu aku benar takut

takut kehilangan lagi takut tersakiti lagi takut ini tidak berjalan lancar

karena yang aku rasa selama kita berhubungan hanya aku yang selalu mengkhawatirkan hubungan kita , hanya aku yang selalu mencari jalan terbaik untuk hubungan kita

hanya aku yang selalu bertanya bagaimana kelanjutan hubungan kita

apakah kita jadi mengadakan pertemuan antar keluarga ?????

dan kamu meyakinkan itu kembali , bahkan sudah menentukan tanggal

kemudian hal itu terjadi lagi

komunikasi kita semakin tidak lancar

Aku masih sabar masih mau menunggu masih mau melanjutkan hubungan ini

entah kenapa aku juga tidak tau

semakin hari semakin aku tau bahwa sudah ada Rasa yang tumbuh di hatiku ,

walaupun hatiku belum total sembuh dari kejadian dimasa sebelum ada kamu

berkali aku menolak tapi tetap rasa itu semakin ada dan aku Bahagia

sembari membayankan acara yang akan ku nantikan

Kamu bersama Orangtua mu datang menemui Orang Tua ku ..

Semakin lama aku semakin ingin selalu ingin tau semua yang ada dikamu

walaupun aku sadar hal tersebut tidak pernah kamu lakukan kepadaku

Diluar iya aku terlihat biasa saja bahkan terkesan Galak

percayalah terkadang aku menggunakan hal itu untuk menyembunyikan rasa yang ada walaupun sebagian diri aku memang ada terkesan Galak

Aku selalu menunggu menanti semua kepastian yang ada

bahkan selalu aku yang menanyakan perihal itu

Kamu tak pernah sekali pun mempunyai Itikad baik ketika ada hal penting yang harus disampaikan mengenai hubungan ini, karna hubungan ini sudah diketahui oleh kedua belah pihak keluarga bukan antar Aku dan Kamu

Lama lama Kamu kehilangan fokus mengenai hubungan ini tapi kamu tidak pernah mau membicarakannya sedangkan aku butuh kepastian itu

Tidak masalah aku masih tetap menerima mu bahkan Bodohnya aku , rasa itu semakin ada.

semakin lama kamu semakin menyepelekan hal ini,

kita semakin tidak mempunya waktu untuk membicarakan dengan serius tentang rencana yang sudah kita rencanakan padahal waktu sudah semakin mendekat

Aku ga tau sampai sekarang apa ada yang salah dengan ku selama kita berhubungan ?

karna kamu tidak pernah membicarakannya , aku tanyapun terkadang jawaban kamu seperti orang yang tidak ingin membicarakan hal itu

lalu semakin aku tau ternyata kamu ada hal lain yang kamu ingin fokus kan

yaitu Pekerjan

itu pun harus aku paksa dulu supaya kamu bercerita ..

aku terima semuaaa sempat kita berbicara kemana arah nanti kamu ingin kan demi karir kamu

aku suport bahkan aku sampai mengatakan manfaatkan aku ambil hal yang positif dari aku untuk belajar yang berhubungan pencapaian karir nya

jika memang kita ini pasangan seharus nya kamu percaya aku kamu bercerita masalah mu

tapi yang ada selama ini kamu menyimpan sendiri oh tidak kamu lebih percaya teman mu dibanding aku dan aku merasa tidak berguna sebagai pasanganmu

aku masih menerima dan memberi kamu kesempatan untuk hubungan kita

walaupun belum ada juga itikad baik dari kamu untuk menjelaskan solusi dari semua ini

muncul lah pertanyaan ku

Jika kamu emank mau fokus karir dan ga bisa terpecah konsentrasi dengan hubungan kita kenapa kamu berani mengajak ku menikah di awal ?

jawaban yang kamu berikan dengan entengnya

"aku tidak akan tau jika karir aku bakal terancam seperti ini "

lalu berbagai alasan yang kamu sebutkan yang berhubungan dengan karir

disitu rasa nya aku mau nangis dan marah kecewa

Bagaimana yang terjadi

Pada waktu itu kamu mengira karir kamu baik baik saja lalu kita menikah apakah ada jaminan setelah menikah karir mu akan baik baik saja ????

We never know what will happen kan

so kenapa sekarang menyalahkan hubungan jika belum yakin menikah tidak usah mengajak

apa dia tidak ingat Visi misi tujuan kita menikah apa ???

dari situ aku berfikir

Kamu tidak benar serius dengan ini semua

kamu masih belum dewasa menghadapi hal hal buruk jika itu terjadi kedepannya

dan saat itu aku masih mau menerima mu dan memberikan kesempatan

dengan kita menghabis kan waktu bersama dengan aku meminta waktu kamu untuk kita membicarakan semua berdua secara serius dan kamu menyetujui itu

tapi yang ada hal itu tidak ada , sengaja aku menunda kepulangan agar meminta waktu mu sebentar tapi tidak kamu usahakan itu malah yang ada kamu memilih meluangkan waktu kamu untuk teman kamu yang sedang kesulitan dalam kerjaan dan butuh curhat , padahal itu adalah hari terakhir aku bersama mu, bahkan meminta waktu mu sebentar saja susah.

Sudah sudah walau pahit

oke aku masih menunggu dengan waktu sedikit keesokannya masih aku memberikan kesempatan

Tapi yang terjadi NOTHIN

karna aku tidak tahan dengan semua dengan sangat hancur dan berat hati

aku membiarkan kamu memilih fokus mengejar karir dan cita citamu

aku biar dengan diri ku sendiri

kamu hanya Diam tidak berusaha apa apa

hanya berkata kamu baik baik jika ada apa apa kabari

Tidak itu tidak akan terjadi lagi

Sudah semua nya

ini bukan tentang aku tidak mau menemani mu dari 0 tapi tentang komitmen mu tentang kesepaktan kita tentang bagaimana kamu bersikap ketika sedang menghadapi masalah

untuk diri kamu sendiri aja masih bingung bagaimana nanti ketika sudah menikah ?

yang pasti akan menambah banyak persoalan yang tetap harus multitasking

kamu tidak tau yang mana menjadi priotas, kamu tidak bisa menempatkan suatu hal pada tempatnya. hal terpenting ini mengenai ITIKAD BAIK kamu

yang jelas kamu belum Siap MENIKAH

I End up this relationship

Ini adalah 2022 yang paling menakjubkan bagi ku ketika aku dipatahkan berkali kali

yang terakhir ini mengenai MENIKAH

sudah sulit untuk ku untuk memulai hubungan baru lagi

dan ForGodSake aku tidak akan kembali ke Dunia itu walaupun sudah tersakiti berkali kali

yang aku tidak bisa lakukan adalah menjalin hubungan baru dan percaya kembali dengan kata MENIKAH

Dont trust anymore

Sedih sampai detik aku menulis ini bahkan Kata Maaf pun tak keluar dari mulut mu

semua benar benar menghilang

aku tak sanggup melihatmu bahkan di social media pun aku memblokir semua

Kamu tau ...

betapa sulit aku menjelaskan kepada seluruh keluarga ku ..

Kamu tau rasanya kaya apa ???

SEDIH!!!!!!!!!!!!!!!

USELESS!!!!!!!!!!!!

Rusak semua .....

Tuesday, 15 September 2026

Media yang Indah (Part 2)

Awalnya aku sedang mencari foto atau video bersama Abang Djago untuk diposting dan mengucapkan selamat ulang tahun. Kebetulan ponakanku sedang berulang tahun. Memang dia bukan keponakan sedarah, tapi aku dan ibunya, Meylan, sudah seperti saudara sendiri karena kami memang dekat.

Tapi di tengah aku mencari foto dan video itu, tiba-tiba aku scroll TikTok dan menemukan sosok aku… dan sosok kita saat itu.

Atau mungkin lebih tepatnya, aku menemukan kembali diriku yang dulu, sebelum menjadi “kita”.

Di sana, aku melihat aku yang begitu menikmati hidup. Aku terlihat bahagia. Padahal kalau diingat-ingat lagi, saat itu aku juga sedang melalui proses yang tidak mudah. Sedang galau, sedang berusaha melewati sakit hati karena hubungan yang tidak berkesudahan dengan orang yang berbeda-beda. Kondisi finansial pun sebenarnya tidak sedang baik-baik saja.

Tapi anehnya, aku tetap bisa menikmati hidup.

Aku tetap pergi, bertemu banyak orang, menambah teman, mencoba hal-hal baru, mengumpulkan pengalaman, tertawa, dan menjalani hari sebisaku.

Dan yang paling aku ingat…

Aku melewati semuanya sendiri.

Bukan berarti saat itu aku tidak pernah sedih. Aku tetap sedih. Tetap pernah merasa hancur. Tapi entah bagaimana, aku tetap bisa menemukan cara untuk menikmati hidup.

Sampai akhirnya aku berpikir,

“Dulu aku bisa seperti itu. Kenapa sekarang rasanya agak sulit, ya?”

Aku sendiri sampai sekarang tidak benar-benar tahu jawabannya.

Mungkin aku tahu penyebabnya, tapi masih bertanya-tanya apakah memang itu penyebab sebenarnya. Atau mungkin aku hanya sedang shock dengan banyak hal yang terjadi sekaligus.

Tapi mungkin tidak apa-apa.

Jadi, mari ceria lagi.

Mari menikmati hidup lagi.

Seperti dulu.

Percaya bahwa rezeki akan datang dari mana pun dan melalui jalan apa pun yang Allah izinkan.

Dan kemudian aku teringat…

KITA.

Hai, kita.

Kita dulu pernah sebahagia itu.

Pernah menikmati hidup sesederhana itu.

Kadang apa adanya, kadang ada apanya. Kadang semuanya terasa mudah, kadang tidak. Tapi kita tetap bisa menikmatinya.

Itu sebelum kita mendapatkan ujian yang harus kita hadapi.

Dan ternyata…

Kita bisa melewatinya.

Memang setelah itu masih ada ujian lain. Sampai sekarang pun mungkin masih ada. Tapi sekali lagi, kita tetap bisa melewatinya.

Aku jadi ingat bagaimana dulu kita pernah berjanji untuk mengarungi kehidupan bersama.

Kita pernah tertawa bersama.
Menangis bersama.
Berantem.
Kesal.
Berdamai.
Bercerita tentang banyak hal.

Apa pun yang terjadi, rasanya selalu ada “kita” di dalamnya.

Dan sekarang aku bertanya kepada diri sendiri…

Kalau dulu kita bisa melewati begitu banyak hal, apakah satu ujian harus membuat kita lupa bagaimana bahagianya kita dulu?

Coba lihat lagi foto dan video itu.

Wow…

Ternyata kita pernah sebahagia itu.

Pernah seenjoy itu.

Pernah tertawa hanya karena hal-hal sederhana.

Bahkan ketika kamu datang mengunjungiku, selalu saja ada sesuatu yang akhirnya menjadi bahan tertawaan kita.

Lalu kenapa sekarang kita harus menghentikan semua itu hanya karena kita sedang diberikan ujian?

Bukankah hubungan bukan hanya tentang bagaimana kita bahagia ketika semuanya baik-baik saja?

Tapi juga tentang bagaimana kita belajar tetap bersama ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.

Bagaimana kita mengelola masalah.

Bagaimana kita saling memahami.

Bagaimana kita tetap memilih untuk tidak menyerah ketika keadaan sedang berat.

Aku pernah ingin menyerah.

Bahkan mungkin lebih dari sekali.

Aku pernah marah dengan keadaan kita.

Aku pernah kecewa.

Aku pernah bertanya-tanya kenapa semuanya harus terjadi seperti ini.

Tapi pada akhirnya, aku selalu memilih untuk tidak benar-benar menyerah.

Mungkin karena aku tahu…

Kita sedang melewati ujian yang besar.

Dan kalau memang ujian itu sudah kita lewati, seharusnya kita tidak hanya meninggalkan rasa sakitnya.

Kita juga membawa pelajarannya.

Kita belajar dari apa yang terjadi.

Kita memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.

Kita tumbuh menjadi versi yang lebih dewasa.

Versi kita yang lebih bijak.

Versi kita yang sudah tahu bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Karena tidak semua hubungan akan selalu bahagia.

Dan mungkin memang tidak seharusnya begitu.

Bahagia itu relatif.

Begitu juga dengan cobaan.

Yang penting bukan apakah kita akan selalu bahagia, tapi bagaimana kita menjalani keduanya.

Jadi, kalau masih ada jalan…

Mari kita nikmati keduanya bersama.

Tentang orang-orang?

Biarkan mereka.

Orang yang benar-benar memahami kita tidak akan menjadikan ujian dalam hubungan kita sebagai bahan untuk menertawakan atau menghakimi.

Mereka yang tulus akan ikut bahagia ketika melihat kita berhasil melewati sesuatu yang berat.

Mereka tidak harus selalu setuju dengan pilihan kita.

Tapi mereka akan tetap menghargai bahwa hidup yang kita jalani adalah hidup kita.

Karena terkadang orang memang mudah menilai sesuatu yang tidak mereka jalani sendiri.

Mereka melihat dari luar.

Mereka tidak tahu apa yang kita rasakan.

Tidak tahu berapa banyak malam yang kita lewati dengan pikiran yang berat.

Tidak tahu berapa banyak hal yang sudah kita coba perbaiki.

Tidak tahu cerita lengkapnya.

Jadi, biarkan saja.

Kita tidak perlu menjelaskan semuanya kepada semua orang.

Yang penting adalah KITA.

Karena pada akhirnya…

KITA adalah KITA.

Bukan tentang bagaimana orang lain melihat kita.

Bukan tentang bagaimana mereka menilai perjalanan kita.

Tapi tentang bagaimana kita memilih untuk menjalani hidup ini.

Dan kalau suatu hari kita melihat kembali foto dan video itu lagi, aku ingin kita tersenyum.

Bukan karena ingin kembali ke masa lalu.

Tapi karena kita tahu…

Kita pernah bahagia.

Kita pernah berjuang.

Kita pernah jatuh.

Kita pernah hampir menyerah.

Tapi kita juga pernah memilih untuk bangkit.

Maka mungkin sekarang saatnya membuat versi baru dari kebahagiaan itu.

Bukan kembali menjadi kita yang dulu.

Tapi menjadi kita yang lebih dewasa, lebih bijak, lebih kuat, dan lebih tahu bagaimana cara menjaga apa yang kita punya.

Aku senang pernah melewati banyak hal bersamamu.

Dan kalau masih diberikan kesempatan…

Aku ingin menikmati hidup lagi.

Bersamamu.

Dengan versi kita yang baru.

KITA.

Hai, kita.

Mari hidup lagi.

Mari tertawa lagi.

Mari menikmati lagi.

Dan mari percaya bahwa setelah semua yang kita lewati…

masih ada banyak hal indah yang menunggu kita.

KITA adalah KITA.

KITA, Media yang Indah.

Tuesday, 1 September 2026

Fahad dan Bakso Malang (New Version 2026)

Entah sejak kapan, aku mulai merasa ada sesuatu yang aneh dalam persahabatanku dengan DJ dan Fahad. Siang itu, DJ mengajakku ke kantin untuk membeli cemilan karena stok kami sudah hampir habis. Saat sedang memilih makanan, tiba-tiba DJ bertemu dengan teman satu ekskul basketnya dulu.

“Eh, Fahad!” sapa DJ.

Cowok itu pun menoleh dan menghampiri kami. Namanya Fahad. Jujur saja, kesan pertamaku saat melihatnya adalah: cowok ini cukup menarik. Tubuhnya tinggi, hidungnya mancung, alisnya tebal, serta kulit cokelat yang membuatnya terlihat seperti perpaduan Arab dan Indonesia.

Namun, bukan hanya penampilannya yang membuatku terkesan, Fahad juga ramah dan supel. Ia mudah bergaul dan tidak pernah membeda-bedakan orang saat bertemab. Setidaknya, itulah kesan pertama kutangkap saat berkenalan dengannya.

Sejak hari itu, semuanya berjalan begitu saja. Tanpa sadar, aku, DJ dan Fahad menjadi sangat akrab. Kami sering menghabiskan waktu bersama, pergi ke kantin bersama, pulang sekolah bersama, bahkan sekedar mengobrol tentang hal-hal tidak penting pun terasa menyenangkan.

Bersama mereka, aku merasa nyaman. Terlalu nyaman bahkan sampai sering lupa bahwa sebenarnya aku sangat berbeda dari mereka.

DJ dan Fahad sama-sama tinggi dan atletis, sedangkan aku? Yah... bisa dibilang jauh dari kategori itu. Kadang aku bercanda pada diri sendiri kalau tinggiku mungkin cuma setengah dari mereka. Oke, itu memang agak berlebihan.

Tapi serius, perbedaan itu tidak pernah membuat mereka memperlakukanku dengan cara yang berbeda. Mereka tetap bersikap biasa saja, seolah aku sama kerennya dengan mereka.

Eh, tunggu. Sebelum kalian membayangkan aku sependeka anak SD, aku luruskan dulu. Tinggi DJ sekitar 165 cm, Fahad 180 cm dan aku 150 cm. Jadi memang pendek sih... tapi tidak separah yang kubayangkan sendiri. Walaupun kadang tetap bikin insecure. Hiks, hiks, hiks.

Fahad termasuk orang yang murah hati. Entah sudah berapa kali dia memberi aku dan DJ camilan, cokelat, atau sekedar mentraktir kami bakso sepulang sekolah. Awalnya aku menganggap itu hal yang biasa. Tapi lama-kelamaan, aku jadi merasa nggak enak sendiri. Rasanya terlalu sering menerima tanpa bisa membalas apa-apa.

Namun, ada hal lain yang jauh lebih menggangguku.

Entah sejak kapan, hubungan DJ dan Fahad mulai terasa aneh. Padahal sebelumnya mereka terlihat baik baik saja. Mereka masih bercanda seperti biasa, masih sering bersama, tapi ada sesuatu yang berubah. Aku bisa merasakannya, meskipun tidak benar-benar mengerti apa.

Yang membuatku bingung, mereka mulai saling menjelek-jelekkan di depanku.

Saat sedang berdua denganku, DJ tiba tiba mengeluhkan Fahad. Katanya Fahad begini, Fahad begitu. Anehnya, beberapa hari kemudian Fahad melakukan hal yang yang sama. Dia juga bercerita tentang hal-hal yang tidak disukainya dari DJ.

Aku cuma bisa mengedip bingung.

Hei, sebenarnya ada apa sih dengan kalian berdua?

Jujur saja, aku heran. Di depanku mereka masih terlihat akur. Tapi begitu salah satunya tidak ada, yang lain mulai mengeluh.

Suatu siang, aku tidak sengaja bertemu Fahad di kantin. Karena sama-sama tidak punya kegiatan, kami akhirnya duduk dan mengobrol sampai sore. Topiknya macam-macam, mulai dari tugas sekolah sampai hal-hal random yang bahkan tidak penting.

Sampai tiba-tiba Fahad berkata,

“Dee... aku sebel sama DJ.”

Aku menoleh.

“Kenapa?”

Fahad mengangkat bahu. “Nggak tahu. Kayaknya dia sok banget akhir-akhir ini.”

Aku terdiam beberapa detik.

Lagi-lagi DJ.

Lagi-lagi keluhan tentan DJ.

Anehnya, beberapa hari sebelumnya aku juga mendengar keluhan yang hampir mirip dari DJ tentang Fahad.

Saat itu aku hanya bisa tersenyum kikuk. Aku bener-bener tidak tahu harus berkata apa. Rasanya seperti terjebak ditengah-tengah dua sahabat yang diam-diam sedang berperang, sementara aku bahkan tidak tahu apa penyebabnya.

Malam itu, sepulang dari minimarket, aku dan DJ memutuskan berjalan-jalan sebentar disekitar komplek. Udara malam terasa cukup sejuk, membuat kami betah mengobrol lebih lama dari biasanya.

Saat sedang berjalan santai, tiba-tiba DJ bersuara.

“Ih, Dee, DJ sebel tau sama Fahad. Dia sekarang sok cuek banget sama DJ.”

Aku langsung menoleh.

Lagi-lagi Fahad.

Jujur saja, aku mulai merasa tidak nyaman berada di posisi ini, di satu sisi DJ adalah sahabatku. Di sisi lain, Fahad juga teman yang baik. Tapi akhir-akhir ini mereka terus mengeluhkan satu sama lin di depanku.

Sebenarnya aku harus bagaimana, sih?

Yang membuatku semakin bingung, sikap mereka kepadaku tidak berubah sama sekali. Mereka tetap bersikap baik seperti biasanya.

Bahkan Fahad malah semakin serig mengajakku bicara. Anehnya lagi, dia beberapa kali mentraktirku tanpa mengajak DJ. Kadang dia memberiku camilan, kadang coklat atau sekedar makanan favoritku.

Tentu saja aku tidak enak hati.

Karena itulah setiap kali Fahad memberiku sesuatu, aku selalu teringat pada DJ. Aku sering membagi apa pun yang diberikan Fahad kepadaku. Rasanya tidak adil jika hanya aku yang menikmatinya.

Tapi yang aneh, DJ selalu menolak.

Suatu hari aku membawa sandwich ke kelasnya. Aku sengaja tidak mengatakan siapa yang memberikannya.

“Nih, makan dulu,”kataku sambil menyerahkan sandwich itu.

Tanpa curiga, DJ menerimanya lalu mulai makan. Setengah sandwich berhasil dia habiskan.

Aku yang merasa tidak enak akhirnya berkata jujur.

“Oh ya, tadi itu dari Fahad, lho. Aku ketemu dia di bawah, terus dia ngasih...”

Kalimatku bahkan belum sempat selesai.

DJ langsung menghentikan makannya.

Wajahnya berubah seketika.

Tanpa mengatakan apa-apa, dia menyodorkan kembali sandwich itu ke tanganku, lalu berdiri dan masuk ke dalam kelas.

Begitu saja.

Aku hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kelas dengan setengah sandwich di tangan.

Bingung.

Heran.

Dan semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi di antara mereka berdua.

Parahnya, hanya karena Fahad dan sebungkus bakso Malang, aku sampai bertengkar hebat dengan DJ. Sejak saat itu, persahabatanku dengannya mulai merenggang.

Kejadiannya terjadi sehari setelah ulang tahunku, tepatnya hari Minggu. Hari itu Fahad mengajakku makan bakso Malang. Anehnya, dia hanya mengajakku dan tidak mengajak DJ. Karena merasa tidak enak, aku tetap menawarkan agar DJ ikut bersama kami.

"Ya terserah," jawab Fahad malas.

Aku pun mengajak DJ, tetapi dia langsung menolak mentah-mentah. Ya sudah, mau bagaimana lagi.

Jujur saja, saat itu aku sempat GR. Aku heran kenapa Fahad tiba-tiba jadi baik sekali kepadaku tepat saat moment ulang tahunku. Meskipun tidak mau ikut makan bersama, DJ sempat berkata,

"Kalau gitu titip satu porsi bakso Malang, dibungkus ya." Dan DJ memberikan uang sebesar Rp.50.000,-

Saat aku dan Fahad sedang memesan bakso, aku sekalian memesan satu porsi untuk dibawa pulang. Fahad terlihat heran.

"Buat siapa?"

"Buat DJ," jawabku.

Mendengar itu, Fahad hanya mengangkat bahu. Dari ekspresinya aku tahu dia tidak berniat membayarkan pesanan untuk DJ. Aku juga tidak terlalu berharap toh DJ sudah memberikan uangnya untuk beli bakso tersebut.

Masalahnya, saat akan membayar, uangnya ternyata pas dan tidak ada kembalian. Akhirnya Fahad yang membayar semuanya, termasuk bakso bungkus untuk DJ. Aku langsung merasa tidak enak.

Sesampainya di rumah DJ, aku langsung menyerahkan bakso pesanannya. Dia menerimanya dengan sebuah senyum yang entah kenapa sulit kuartikan.

Lalu tiba-tiba dia bertanya,

"Mana kembalian uangnya? Aku mau beli es."

Aku langsung panik.

Kalau aku jujur bahwa bakso itu dibelikan Fahad, aku yakin DJ akan marah. Tapi kalau berbohong, aku juga merasa bersalah.

Akhirnya aku memilih jalan yang salah.

"Uangnya kebawa sama Lala tadi sempat nitip, karna tadi sempat bareng pulangnya ," bohongku. Lala yang suka bantu – bantu dirumahku

DJ mengangguk begitu saja.

Aku mengembuskan napas lega. Dalam pikiranku, nanti aku tinggal menukar uang dan menggantinya. Beres.

Tapi ternyata masalahnya tidak selesai sampai di situ.

Sebenarnya aku ingin jujur sejak awal. Lagi pula aku juga bersyukur karena Fahad sudah membantu membayar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa DJ begitu tidak suka menerima apa pun dari Fahad.

Dan yang lebih membuatku kesal, aku terus berada di posisi yang serba salah.

Sayangnya, aku malah lupa menukar uang itu.

Sorenya, saat aku sedang berjalan bersama DJ di taman, dia kembali menanyakan uang tersebut. Aku asal menjawab bahwa aku belum membawanya.

Awalnya aku pikir semuanya aman.

Ternyata tidak.

Iseng aku bertanya,

"Bakso Malangnya udah dimakan belum?"

DJ menjawab datar,

"Udah aku buang."

Aku langsung berhenti melangkah.

"Hah? Dibuang?"

Jujur saja, saat itu aku kesal setengah mati. Aku tau DJ sedang bokek, tapi dia malah membuang makanan begitu saja.

Barulah aku sadar.

Entah bagaimana caranya, DJ ternyata sudah tahu kalau bakso itu dibelikan oleh Fahad.

Aku berusaha menjelaskan, tetapi dia sama sekali tidak mau mendengarkan.

Sejak saat itulah hubunganku dengan DJ mulai berubah. Kami sering saling diam, saling menghindar, dan tidak lagi sedekat dulu.

Aku sudah berkali-kali mencoba meminta maaf, tetapi semuanya sia-sia. DJ tetap bersikap dingin. Sedih sekali rasanya.

Hanya karena Fahad, seseorang yang baru kukenal beberapa bulan, aku harus kehilangan kedekatan dengan sahabat yang sudah lama menemaniku.

Belakangan, aku akhirnya mengetahui alasan di balik semua keanehan itu. Ternyata Fahad menyukai DJ. Sayangnya, perasaannya ditolak karena saat itu DJ sudah menyukai seseorang, Heidi, anak tim basket juga. Dan yang membuatku semakin kesal, tanpa sadar aku justru terseret ke dalam masalah mereka.

Aku mulai curiga Fahad sengaja mendekatiku untuk membuat DJ cemburu. Sementara itu, DJ malah menganggap aku sebagai penyebab semuanya. Menurut DJ, aku tidak tahu terima kasih. Dia merasa akulah yang "merebut" Fahad darinya, padahal yang mengenalkan Fahad kepadaku sejak awal adalah dirinya sendiri. Seolah-olah semua kesalahan ada padaku. Padahal aku tidak pernah meminta berada di posisi itu. Aku hanya ingin berteman dengan mereka berdua.

Kadang kalau mengingat semuanya sekarang, aku masih merasa kesal. Mereka sama-sama sibuk dengan perasaan dan ego masing-masing, sementara aku terjebak di tengah-tengah tanpa tahu harus berpihak ke siapa.

Dan mungkin yang paling menyakitkan bukanlah pertengkaran itu. Melainkan kenyataan bahwa tidak satu pun dari mereka menyadari betapa tidak nyamannya posisi yang harus kujalani saat itu.

Saat itu, aku merasa Fahad mengambil kesempatan dalam kesempitan. Akibatnya, kesempatan yang kumiliki untuk mempertahankan persahabatan dengan mereka perlahan lenyap. Pada akhirnya, tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk tetap berteman baik dengan mereka. Dan di sisi lain, kesempatan Fahad untuk menjalin hubungan dengan DJ ternyata juga tidak pernah ada sejak awal.


Pernah Terbit di Majalah Online 

Cantante

Wednesday, 15 November 2023

Setidaknya INDAH itu ada (Part 1)


KeINDAHan...

Yang diluar dugaanku

Tak pernah ada rasa suka, biasa saja.

Membayangkannya pun tak mau

KeINDAHan...

Aku menghindar darinya

Mencoba membentengi diri setinggi tingginya

Agar tak bisa masuk bahkan melewatinya

KeINDAHan...

Aku takut membuat diri ini kecewa

Teramat takut

Seperti yang sudah sudah

Bentengan itu ku perkuat

Lalu kau mencoba ingin mendobraknya

Dengan cara mencoret bentengan itu sehingga aku marah

Sehingga aku keluar dari bentengan itu

Mencoba untuk menghapus coretan yang salah

Yang sama sekali tidak ada KeINDAHan didalamnya

Mencoba memberi pengertian

Kenapa ada Bentengan yang sangat tinggi

lalu aku mencoba mengerti

Maksud apa yang akan dibawa oleh KeINDAHan tersebut

Kedalam Bentengan itu

Bentengan itu perlahan ku rendahankan sedikit

Agar KeINDAHan setidaknya bisa melihat apa yang sedang terjadi dibalik itu.

KeINDAHan...

Perlahan mulai mengerti apa yang terjadi

Bentengan tersebut direndahkan lagi

Agar Kau bisa melihat sedikit lebih jelas

KeINDAHan...

Kau sudah paham dan mengerti...

Benteng tersebut terbuka sedikit pintunya...

Sembari kau tetap mencoba lagi dan lagi untuk memahami

Aku pun mencoba membiarkan itu terjadi

Membiarkan keINDAHan itu melewati Pintu bentengan yang sudah mulai terbuka perlahan..mencoba memahami maksud sebuah KeINDAHan itu untuk memasuki sebuah tempat yang dimana sudah porak poranda hancur oleh keadaan

Yang harus dirapihkan ulang menjadi lebih INDAH

dan sejak saat itu aku mulai paham , setidaknya INDAH itu ada.




Tuesday, 8 August 2023

Dear February (The Last Part ) Im Just Here ( Part 3)

Dear February..

Aku disini...

Tak kemana...

Tak beranjak...

Hanya Diam...

Mundur dari segalanya


Aku disini...

Tidak menunggu...

Sudah tidak menunggu

Benar sudah tidak...


Aku disini...

Berterima kasih Kepadamu

yang pernah ada


Aku disini...

Sudah tak ingin melihat

Melihat apapun tentangmu


Aku disini...

Berjuang menyembuhkah luka

Luka yang sangat beracun

Pedih...Sangat...Sesak


Aku disini...

Ku Mohon jangan datang


Aku disini..

Melepasmu ...

Melepas dari segala permainan yang kau ciptakan...


Aku disini..

Sendiri....

Hanya Aku

Bukan Kita (Lagi)


Good Bye February



Wednesday, 2 August 2023

Kosong (Part 3)

Kosong...

Bukan kata

Diatas kertas

Kosong...

Hati terasa kosong

Tapi bukan hampa

Kosong...

Perasaan Hampa

Tapi bukan mati rasa

Kosong...

Bukan pikiran

Ataupun otak

Tapi hidup

Kosong...

Sepi...

Tenang...

Tanpa rasa...

Kosong...

Iya kosong

Itu aku saat ini

Nikmati!!




IM JUST... HERE... (Part 2)

Aku disini...

Tidak pergi

Hanya perasaan ku yang perlahan pergi


Aku disini...

Tetap ada

Dan tanpa perasaan yang pernah ada


Aku disini...

Silahkan kembali

Aku tidak menahan bahkan menyuruh pergi


Aku disini...

Hanya sebagai Teman

Bukan Seseorang yang special


Aku disini...

Tidak akan pernah menggenggam erat pasir itu

Dan tidak pernah melakukan hal itu

Karna pasir mengganggu kuku ku jika digenggam


Aku disini...

Hanya Diam menunggu

Tidak pernah maju

Tetap (Sadar) pada tempatnya

Tak usah takut

Seharusnya aku yang takut


Aku disini...

Bukan Impulsif

Hanya manusia yang punya Hati dan perasaan

Yang kebetulan berlabuh secara tak sengaja kepada tempat yang tidak tepat


Aku disini...

Dengan ketidaksempurnaanku

Karna aku hanya manusia biasa


Aku disini...

Kecewa sangat

Tapi aku tak membenci


Aku disini...

Berusaha bernafas dengan baik

Dengan perasaan tak menentu


Aku disini...

Merindu

Tapi tak sama perasaan

Biasa saja


Aku disini...

Sendiri

Sepi

Tenang


Aku disini...

Menangis

Dengan segala yang sudah sudah


Aku disini...

Bersyukur dengan segala yang terjadi

Bersyukur ternyata cinta masih bisa tumbuh dihatiku


Aku disini...

Ternyata tidak mati Rasa

Masih ada Hati dan Perasaan

Bahkan Jiwa


Aku disini...

Bisa bertahan

Walaupun sendiri


Aku disini..

Iya disini dan tak kemana mana

Tetap menunggu

Seseorang yang tepat di waktu yang tepat

Untuk saling menjaga Hati dan Perasaan ini

Tidak seperti yang sudah sudah


Aku disini...

Selalu disini...

 




Sunday, 23 July 2023

IM JUST... HERE...

Aku disini...
Menulis tanpa kata
Karna tak ada satu katapun yang bisa aku ungkapkan...

Aku disini...
Tidak pergi tapi hanya diam
Diam dengan segala kebisingan yang ada

Aku disini...
Tidak meninggalkan siapapun
Hanya tak bisa berkata 
Melihat apa yang sudah kau katakan

Aku disini...
Dengan air mata yang tak bisa terlihat

Aku disini...
Sendiri merawat luka yang bertambah

Aku disini...
Hilang tanpa arah...

Aku disini...
Dengan semua kenangan

Aku disini...
Melewatinya sendiri

Aku disini...
Ya aku masih tetap disini...
Dan tidak pergi kemana mana
Dengan segala perasaan yang ada

Aku masih disini..
Dan kau tak disini..
Dan aku akan selalu disini...
Dengan rasa yang masih sama...

Aku disini...
Dan tak tau harus bagaimana

Aku disini...
Sedih...

Aku disini...
terluka...

Aku disini...
Menunggu...

Aku disini...
Bodoh!!!!!